April 2007
1. Mimpi Antara Dulce dan Utile
2. Mencari Dulce Lewat Tiga Jurus OB
3. Manusia di Balik Kostum Ketat Superman
4. Demistifikasi Smallville
5. Kota dan Cerita
6. Dosa Besar dari KePEMIMPIanku
7. Julia Navarro: Guru Baruku
8. Pikiran Liar, Pikiran Kita
8. Bermimpi, Tidak Menganggur Semasa Tidur
9. M-e-n-g-u-r-a-i Bahasa
10. Kesabaran Berargumentasi (Kritik untuk Esai Jawa Pos)
Mei 2007
1. Buku Apresiasi Puisi yang Nakal
2. Mencekame et Mencerdaskane (Salam Hormat buat Putu...
3. Bermimpi Ketemu Guru: Dream for Romo Joyce
4. Sastrawan Berbicara Siswa (JUGA) Berbicara (Tanggapan buat Esai Jawa Pos oleh D. Zawawi Imron)
5. Tentang Perempuan, Tidak Harus (Perjuangan) Feminisme
6. Ada Apa dengan Bahasa Indonesia?
7. A Fight It is, but a Gentle Kind of One (GBU Mbak Ratna)
8. Time + The Sea: Menyelam Kembali ke dalam Diri
Juni 2007
1. Nagabonar (Jadi) 2: A New Wave of Movie Novelization)
2. Sponge Bob al-Bikini Bottom: Sebuah Dunia yang Koheren)
3. APA untuk Ditulis, Bukan Sekedar Apa
Juli 2007
1. Sekelebat Mimpi Kisah Cinta
Agustus 2007
1. Reorientasi Pemimpi
2. Antara Saya, Memu, Mempu, dan Ayu Utami
3. Ben Okri, Pak Leo, dan El Boom
4. Ode Kampung bagi si Pemimpi
5. Tentang Penyair Mutakhir Jawa Timur dan Apa-apa di Sekutatnya
Oktober 2007
1. Mengupas Rilke (yang bukan Dyah Pitaloka, :D)
2. Ramadhan ala Pemimpi
3. Diterjemahkan Bukan untuk Disembah
4. Tergugah dari Kepemimpian
5. Mendosen ala Nabokov
6. Aduh, Hiperaktifnya Penulisku Sayang...
7. Ojo Golek Matengan Ae, Bos!
8. Terjemahan Jabberwocky: Dari Kosong Menjadi Kosong...
9. Sesuatu yang Kelak Retak, dan Ujian CPNS Membuatnya Abadi
November 2007
1. Para Pencari Tuhan, Para Penguras Tangis
2. Today's (Indonesian) Literature Esthetically Twist...
3. Tolstoy Juga Blogger!!!
4. Surat Tanpa Amplop buat pak Suparto Brata
5. The Sea (1): Canggih Berbahasa bukan Berarti Mempu...
6. Cerita Anak-anak Ya Kudunya Anak-anak
7. Fiksi yang Kilat, Kalimat-kalimat yang Memberat
8. Sisi Sarkastik Diriku Buat Mas Tjahjono (maaf)
9. Posisi Bahasa Daerah dalam Prosa Berbahasa Indones...
Desember 2007
1. Kuntowijoyo: Pengakuan Cerpenis Koran (1)
2. Kuntowijoyo: KeKuntoan 15 Cerpennya(2)
3. Otak Boleh Benci, Tapi Indera Pengendusan Sastrawi...
4. Turquoise: Cekamannya Oke, Renungannya Asyik Pula ...
5. Turquoise: Cekamannya Oke, Renungannya Asyik Pula ...
6. Kaleidoskop Sastra 2007 (soooooo TVRI, hihihi....)...
7. Surat Ehem-ehem buat Hasan Aspahani: Orgasmaya, Sh...
8. Kaleidoskop Sastra 2007 (soooooo TVRI, hihihi....)...
9. Kaleidoskop Sastra 2007 (soooooo TVRI, hihihi....)...
10. Kaleidoskop Sastra 2007 (soooooo TVRI, hihihi....)...
11. Kaleidoskop Sastra 2007 (soooooo TVRI, hihihi....)...
Januari 2008
1. A Deeper Peek at Sasak Community
2. Verbalisme, Sinetron, Sastra
3. Verbalisme (lagi)... dan Masih Belum Tamat...
4. Tolstoy's Message (to Me, :D): Write the Peculiars...
5. Sinyaliran Ketidakambilpusingan dalam Sepotong Sen...
Februari 2008
1. Dari Mengendalikan Air Menjadi Mengendalikan Pemir...
2. On Prosa Cinta...
3. On Prosa Cinta (lagi)
4. Juarnalisme Sastra Vs. Sastra Thok...
5. Dari Biografi ke Memoar
6. The Ahmad Dhani Chronicle (1)
7. Dari Biografi ke Memoar (2)
8. Apa Masih Pantas Menganggap Sastra sebagai Doa?
9. Bagaimana Resensi yang Ideal Menurut Anda? (Sok Pe...
10. The Ahmad Dhani Chronicle (2.1)
11. The Ahmad Dhani Chronicle (2.1)
12. Antara Chicklit, Teenlit, dan Indra Tjahyadi
13. Saut Situmorang: Ngotobiografi Lewat Puisi? (1)
14. Saut Situmorang: Ngotobiografi Lewat Puisi? (2)
15. Bukannya Kita yang Mengaborsi Jabang Kritikus Sast...
16. Cherish Masa Kecil We Have, We Should
(bersambung, nanti kalo sempat diteruskan bikin daftar isinya... sementara, perlakukan roll di sebelah itu sebagai daftar sini... :D)
Pengumuman Announcement Woro-woro
Dan sementara itu, blog ini sudah diresmikan sebagai buku keempat saya (informasi tentang buku pertama dan kedua bisa didapatkan di sini, sementara buku ketiga saya adalah ini).
:D
2008/07/27
Daftar Isi
2008/06/29
Target 1: Bikin Pembaca Bilang, "Peduli Amat Sama Akhir Cerita!!!!"
Dari film Before Sunrise dan serial Smallville, ada satu pelajaran yang mau tak mau jadi kepetik oleh saya. Apakah itu? Ya judul postingan ini: sebuah cerita manstrap adalah cerita yang membuat pembaca bilang, "Peduli amat sama akhir cerita, yang penting aku menikmati apa yang terjadi saat ini."
Well, sejak dulu-dulu saya selalu mencoba acuh dengan kenikmatan akhir cerita. Seringkali, iseng-iseng saya baca spoiler film atau buku. Mungkin, bagi banyak orang, menjengkelkan sekali rasanya mengetahui sebuah akhir cerita sebelum melihat keseluruhan kisah. Dan memang, banyak sekali kisah thrilling yg kenikmatannya langsung hilang begitu kita tahu, atau bisa menebak, akhir ceritanya.
Tapi, cukup banyak juga kisah-kisah yang tetap bisa memikat perhatian saya meskipun sy tahu akhir ceritanya.
Nah, yang baru-baru ini saya sadari adalah, waktu melihat film semacam Before Sunrise (Ethan Hawke, tokoh utamanya, salah satu pemain di Dead Poets' Society), saya tidak peduli akan berakhir seperti apa ceritanya. Bisa dibilang, kisah Before Sunrise ini sangat simpel, sangat simpel. Seorang laki-laki bertemu cewek di kereta. Terus mereka merasa cocok dan selalu nyambung dalam berbagai topik. Mereka berdua memutuskan untuk jalan-jalan bersama di kota Wina, Austria. Kecocokan mereka semakin teruji. Pembicaraan tanpa henti. Sedikit bobo' di taman (khas backpaper di Eropa deh). Ujung-ujungnya mereka berpisah untuk ketemu enam bulan lagi (tanpa bertukar alamat rumah dan nomer telepon--dan tidak pula alamat imel, settingnya tahun 1995 bo', kayaknya imel belum lazim untuk kehidupan sipil di jaman itu).
Film ini murni film ngobrol. Isinya ngobrooooooool terus. Ada ngobrol di kereta, ngobrol di trem, ngobrol di pancuran, ngobrol di bar. Ada ngobrol sambil tertawa-tawa, ngobrol sambil marah-marah, ada ngobrol sambil mendesah-desah penuh gairah, ada ngobrol sambil sedih mengingat masa lalu, dsb, dst. Ada ngobrol di siang hari, ngobrol diiringi cahaya senja. Ada ngobrol sambil minum, ada ngobrol sambil jalan (tanpa sekalipun "cut"), ada ngobrol sambil sedikit ciuman, dst.
Hebatnya, obrolan kedua tokoh utama itu sangat enak dinikmati. Si cewek suka bicara dengan sesekali memasukkan kemampuan penalarannya yang luas. Si cowok model introvert yang agak canggung dan bicaranya kadang-kadang "tak terjamah". Dan ya, bisa dipahami, dia lumayan suka sastra (dia baca Hemingway di kereta), dan bisa menirukan Dylan Thomas membacakan puisinya W.H. Auden (syairnya hapal)--meskipun sebenarnya agak kontradiktif, karena di satu kesempatan lain, ketika seorang penyair tunawisma di pinggir kali Wina itu membuatkan puisi berjudul Delusion Angel dia "menuduh" si penyair hanya menyelipkan kata pesanan mereka, yaitu "milkshake" ke dalam puisi yang sebenarnya sudah lama jadi.
Tapi, all in all, kemampuan si pembuat skenario dalam hal membuat perbincangan yang asyik antara kedua tokoh utama membuat saya (selaku salah satu penikmat film) bisa menikmati film itu tanpa perlu lagi mempedulikan bagaimana selanjutnya cerita ini bergulir. Yang jelas, setiap momen perbincangannya layak dinikmati.
Tentu saja, semua itu didukung dengan teknik-teknik sinematografi (yang sebenarnya saya sendiri sih nggak tahu banyak hehehe) yang membuat saya sesekali terkejut menikmati manuver-manuver sinematografiknya. Way to go, Ethan!!!!
label: film
oleh... Si Pemimpi jam 14:22 7 komentar



